Ingin Rumah Tangga Bahagia? Ini 7 Kunci Keluarga Sakinah Menurut Islam
![]() |
| Keluarga bahagia dalam keberkahan Islam |
Namun, rumah tangga yang bahagia bukan berarti rumah tangga
yang tidak pernah menghadapi masalah. Dalam kehidupan nyata, suami dan istri
tetap akan menemukan perbedaan karakter, perbedaan pendapat, persoalan ekonomi,
kesalahpahaman, bahkan masa-masa ketika hubungan terasa tidak sehangat
sebelumnya.
Yang membedakan adalah bagaimana pasangan menghadapi semua
persoalan tersebut.
Islam tidak menggambarkan keluarga hanya sebagai tempat
tinggal bersama. Pernikahan juga menjadi tempat suami dan istri membangun
ketenteraman, kasih sayang, tanggung jawab, dan kehidupan yang mendekatkan
keduanya kepada Allah.
Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia
menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan
sayang.”
QS. Ar-Rum: 21
Ayat tersebut menyebut tiga hal yang sangat penting dalam
kehidupan pasangan: ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat.
Karena itu, membangun keluarga sakinah tidak cukup hanya
dengan rasa cinta.
Diperlukan juga iman, tanggung jawab, komunikasi, kesediaan
saling menghargai, dan kemauan untuk memperbaiki diri.
Lantas, apa saja kunci keluarga sakinah menurut Islam?
1. Iman dan Takwa dijadikan sebagai dasar kehidupan keluarga
Kunci pertama adalah menjadikan iman dan takwa sebagai dasar
kehidupan rumah tangga.
Cinta memang penting dalam pernikahan, tetapi cinta saja
tidak selalu cukup untuk menghadapi perubahan kehidupan.
Ketika kondisi ekonomi berubah, ketika pasangan sakit,
ketika muncul perbedaan pendapat, atau ketika menghadapi masalah keluarga,
pasangan membutuhkan nilai yang lebih kuat sebagai pedoman.
Di sinilah iman memiliki peran penting.
Suami dan istri perlu memahami bahwa pernikahan bukan hanya
hubungan antara dua manusia, tetapi juga amanah yang akan dipertanggungjawabkan
kepada Allah.
Ketika mendapatkan rezeki, keduanya belajar bersyukur.
Ketika menghadapi kesulitan, keduanya belajar bersabar.
Ketika melakukan kesalahan, keduanya belajar meminta maaf
dan memperbaiki diri.
Karena itu, jangan hanya membangun rumah yang nyaman secara
fisik.
Bangun pula suasana rumah yang mendukung kehidupan beragama.
Misalnya:
- menjaga shalat;
- membaca Al-Qur'an;
- membiasakan doa;
- saling mengingatkan dalam kebaikan;
- dan membiasakan anak-anak mengenal ajaran agama melalui teladan.
Rumah yang memiliki suasana spiritual tidak berarti harus
selalu serius. Hal-hal sederhana seperti berdoa bersama, membaca Al-Qur'an
beberapa ayat, atau saling mengingatkan waktu salat dapat menjadi bagian dari
kehidupan keluarga.
2. Hak dan Kewajiban Keluarga Dijalankan dengan Penuh Tanggung Jawab
Keluarga sakinah tidak akan terwujud apabila hanya salah satu pihak saja yang terus berusaha.
Suami dan istri mempunyai tugas dan tanggung jawab
masing-masing dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Tanggung jawab tersebut tidak seharusnya dipahami hanya
sebagai daftar kewajiban yang digunakan untuk menuntut pasangan.
Lebih dari itu, pernikahan membutuhkan kerja sama.
Suami perlu menjalankan tanggung jawabnya terhadap keluarga
sesuai kemampuannya.
Sebaliknya, istri juga mempunyai tanggung jawab dalam rumah
tangganya sesuai peran dan kesepakatan yang dijalani.
Dalam praktik sehari-hari, pembagian tugas juga perlu
dibicarakan dengan baik.
Siapa yang mengurus kebutuhan tertentu?
Bagaimana mengatur pekerjaan rumah?
Bagaimana mengasuh anak?
Bagaimana mengambil keputusan mengenai keuangan?
Semakin jelas pembagian tanggung jawab, semakin kecil
kemungkinan munculnya perasaan bahwa salah satu pihak melakukan semuanya
sendirian.
Rasulullah ﷺ
sendiri telah memberikan contoh dalam menjalani kehidupan keluarga.
Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya mengenai apa yang
dilakukan Rasulullah ﷺ di
rumah. Ia menjelaskan bahwa beliau membantu atau melayani keluarganya, dan
ketika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat. Hadis tersebut
diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 5363.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa membantu keluarga itu
bukanlah hal yang bisa merendahkan martabat seseorang.
Bahkan, membantu keluarga itu dapat merupakan akhlak yang
baik dalam rumah tangga.
3. Membangun Komunikasi yang Baik
Permasalahan dalam rumah tangga tidak selalu berawal dari
persoalan yang besar.
Kadang masalah muncul karena hal-hal kecil yang tidak pernah
dibicarakan.
Suami merasa tidak dihargai.
Istri merasa tidak didengarkan.
Salah satu pihak merasa terlalu banyak berkorban.
Namun karena semuanya dipendam, persoalan kecil akhirnya
berkembang menjadi pertengkaran besar.
Oleh karena itu, salah satu kunci yang penting dalam
mewujudkan keluarga sakinah adalah komunikasi.
Belajarlah menyampaikan masalah tanpa merendahkan pasangan.
Daripada mengatakan:
“Kamu
memang tidak pernah peduli!”
lebih baik menjelaskan:
“Saya
merasa kurang diperhatikan ketika hal ini terjadi.”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi cara berbicara dapat
memengaruhi suasana pembicaraan.
Islam juga mengajarkan agar seseorang menjaga lisannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Barang
siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau
diam.”
HR. Bukhari dan Muslim
Prinsip ini juga berlaku dalam rumah tangga.
Pada saat emosi sedang memuncak, sebaiknya meluangkan waktu
untuk menenangkan diri, daripada mengatakan sesuatu yang bisa meninggalkan luka
yang panjang.
Komunikasi yang baik tidak berarti bahwa pasangan harus
selalu setuju.
Perbedaan pendapat tetap dapat terjadi.
Yang terpenting adalah bagaimana supaya perbedaan tersebut
dibicarakan dengan baik tanpa saling merendahkan.
4. Menumbuhkan Kasih Sayang dan Saling Menghargai
Cinta dalam rumah tangga perlu dirawat.
Jangan beranggapan bahwa setelah menikah, perhatian terhadap
pasangan menjadi tidak penting.
Justru setelah menjalani kehidupan bersama selama
bertahun-tahun, perhatian kecil dapat menjadi semakin berarti.
Ucapan sederhana seperti:
“Terima
kasih.”
“Maaf.”
“Bagaimana
harimu?”
atau
“Ada yang
bisa saya bantu?”
mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat membuat pasangan
merasa diperhatikan.
Kasih sayang juga dapat ditunjukkan melalui tindakan.
Membantu pasangan ketika sedang lelah.
Mendengarkan ceritanya.
Menghargai pendapatnya.
Memberikan waktu untuk berbicara.
Tidak mempermalukannya di depan orang lain.
Semua itu merupakan bentuk penghargaan dalam kehidupan
sehari-hari.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang
paling baik kepada keluargaku.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dinilai
sahih dalam sumber yang kami rujuk.
Maka dari itu, akhlak seseorang akan terlihat dari bagaimana
cara ia bersikap kepada orang lain di luar rumah.
Perhatikan pula bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang
tinggal bersamanya setiap hari.
5. Belajar Sabar, Memaafkan, dan Memperbaiki Kesalahan
Tidak ada pasangan yang selalu benar.
Suami bisa melakukan kesalahan.
Istri juga bisa melakukan kesalahan.
Keduanya memiliki kekurangan, kebiasaan berbeda, dan cara
berpikir yang tidak selalu sama.
Karena itu, kesabaran diperlukan dalam kehidupan rumah
tangga.
Namun, sabar perlu dipahami dengan benar.
Sabar bukan berarti membiarkan kezaliman, kekerasan, atau
perlakuan buruk terus berlangsung.
Dalam kondisi yang membahayakan, seseorang tetap perlu
mencari perlindungan dan bantuan yang tepat.
Dalam persoalan rumah tangga sehari-hari, kesabaran berarti
tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak, memberi
kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, dan mencari penyelesaian dengan cara
yang baik.
Begitu pula dengan memaafkan.
Memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa kesalahan tersebut
tidak penting.
Memaafkan berarti tidak terus-menerus menjadikan kesalahan
masa lalu sebagai senjata untuk menyakiti pasangan.
Allah berfirman:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu
tidak suka bahwa Allah mengampunimu?”
QS. An-Nur: 22
Memaafkan akan lebih bermakna apabila disertai dengan
perbaikan.
Jika seseorang terus melakukan kesalahan yang sama tanpa
berusaha berubah, masalah tersebut tetap perlu dibicarakan dan diselesaikan.
6. Mengelola Keuangan dengan Bijak dan Halal
Masalah ekonomi dapat menjadi salah satu sumber tekanan
dalam rumah tangga.
Karena itu, membangun keluarga sakinah juga membutuhkan
kebiasaan mengelola keuangan dengan baik.
Suami dan istri sebaiknya mengetahui kondisi keuangan
keluarga secara terbuka.
Berapa penghasilan?
Berapa kebutuhan pokok?
Apa saja kewajiban yang harus dibayar?
Apakah ada utang?
Berapa dana yang dapat disisihkan untuk kebutuhan masa
depan?
Pembicaraan seperti ini mungkin terasa kurang romantis,
tetapi justru dapat mencegah banyak kesalahpahaman.
Jangan sampai masalah keuangan baru dibicarakan ketika
keadaan sudah sangat sulit.
Islam juga mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam
menggunakan harta.
Allah berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Dia
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
QS. Al-A'raf: 31
Karena itu, kebahagiaan keluarga tidak seharusnya diukur
dari seberapa mahal rumah, kendaraan, pakaian, atau gaya hidup yang dimiliki.
Keluarga sederhana dapat memiliki ketenteraman apabila mampu
mengelola apa yang dimiliki dengan baik.
Sebaliknya, penghasilan besar tidak otomatis membuat rumah
tangga bebas dari masalah.
Yang penting adalah bagaimana harta diperoleh, digunakan,
dan dipertanggungjawabkan.
7. Menghidupkan Suasana Ibadah di Dalam Rumah
Rumah sebaiknya tidak hanya menjadi tempat makan, tidur, dan
berkumpul.
Rumah juga dapat menjadi tempat tumbuhnya iman.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
QS. At-Tahrim: 6
Ayat ini mengingatkan orang beriman tentang tanggung jawab
menjaga diri dan keluarga dari keburukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, suasana ibadah dapat dibangun
melalui kebiasaan sederhana.
Misalnya:
- shalat tepat waktu;
- mengajak anak mengenal Al-Qur'an;
- membaca doa bersama;
- membiasakan ucapan yang baik;
- mengajarkan kejujuran;
- mengingatkan ketika ada anggota keluarga melakukan kesalahan;
- dan memberikan contoh melalui perilaku orang tua.
Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang
tua.
Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika orang tua ingin anak belajar berkata sopan, orang tua
juga perlu memberikan contoh.
Jika ingin anak rajin beribadah, orang tua perlu menunjukkan
pentingnya ibadah dalam kehidupannya.
Dengan demikian, rumah menjadi tempat setiap anggota
keluarga belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Keluarga Sakinah Bukan Berarti Tanpa Masalah
Satu hal penting yang sering dilupakan adalah bahwa keluarga
sakinah bukan berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar.
Pasangan tetap bisa berbeda pendapat.
Suami dan istri tetap bisa merasa kecewa.
Masalah ekonomi tetap mungkin terjadi.
Anak-anak tetap bisa melakukan kesalahan.
Perbedaan antara keluarga yang sehat dan keluarga yang terus
terjebak dalam konflik bukan pada ada atau tidaknya masalah.
Yang penting adalah bagaimana masalah tersebut diselesaikan.
Apakah pasangan mau saling mendengarkan?
Apakah keduanya bersedia mengakui kesalahan?
Apakah ada usaha untuk mencari solusi?
Apakah masalah dibicarakan dengan cara yang tidak
merendahkan?
Dan apakah keduanya masih berusaha menjaga hak serta
kehormatan satu sama lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada
mengejar gambaran rumah tangga yang selalu terlihat sempurna.
7 Kebiasaan Sederhana untuk Mulai Membangun Keluarga Sakinah
Jika tujuh kunci di atas terasa terlalu besar untuk langsung
diterapkan, mulailah dari kebiasaan sederhana.
Pertama, luangkan waktu berbicara tanpa gangguan.
Tidak harus lama. Yang penting benar-benar saling
mendengarkan.
Kedua, biasakan mengucapkan terima kasih.
Jangan menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang
otomatis.
Ketiga, segera minta maaf ketika melakukan kesalahan.
Menjadi orang yang meminta maaf bukan berarti kalah.
Keempat, hindari mempermalukan pasangan.
Persoalan rumah tangga sebaiknya tidak diumbar kepada orang
lain tanpa alasan yang tepat.
Kelima, buat kesepakatan mengenai keuangan.
Bicarakan pemasukan, pengeluaran, utang, tabungan, dan
kebutuhan keluarga secara terbuka.
Keenam, hidupkan ibadah di rumah.
Tidak harus dengan kegiatan yang rumit. Mulailah dengan
salat, doa, membaca Al-Qur'an, dan saling mengingatkan.
Ketujuh, jangan berhenti belajar menjadi pasangan yang lebih
baik.
Pernikahan adalah perjalanan panjang. Suami dan istri perlu
terus belajar memahami perubahan diri, pasangan, dan keadaan keluarga.
Kesimpulan
Keluarga sakinah menurut Islam bukanlah keluarga yang hidup
tanpa masalah.
Keluarga sakinah adalah keluarga yang berusaha membangun
ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat dengan menjadikan ajaran Allah sebagai
pedoman.
QS. Ar-Rum ayat 21 menggambarkan pasangan sebagai bagian
dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat
di antara keduanya.
Untuk membangunnya, diperlukan beberapa hal penting: iman
dan takwa, tanggung jawab, komunikasi yang baik, kasih sayang, kesabaran,
pengelolaan keuangan yang bijak, dan suasana ibadah di dalam rumah.
Semua itu tidak dapat dibangun dalam satu hari.
Ada kalanya pasangan melakukan kesalahan.
Ada kalanya komunikasi tidak berjalan baik.
Ada masa ketika ekonomi sulit.
Ada saat ketika rumah tangga terasa melelahkan.
Namun selama masih ada kemauan untuk belajar, memperbaiki
diri, saling menghargai, dan kembali kepada Allah, selalu ada ruang untuk
memperbaiki hubungan.
Jangan mengejar rumah tangga yang terlihat sempurna di mata
manusia.
Bangunlah rumah tangga yang berusaha menjadi baik di hadapan
Allah.
Sebab kebahagiaan dalam pernikahan bukan hanya tentang
memiliki pasangan yang sesuai dengan semua keinginan kita.
Kebahagiaan juga lahir ketika dua orang bersedia belajar
menjadi pasangan yang lebih baik bagi satu sama lain.
Semoga Allah memberikan kepada setiap keluarga ketenteraman,
kasih sayang, rahmat, rezeki yang halal, dan keteguhan untuk menghadapi setiap
ujian bersama.
Aamiin.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan keluarga sakinah menurut Islam?
Keluarga sakinah dapat dipahami sebagai keluarga yang
berusaha membangun kehidupan dengan ketenteraman, kasih sayang, rahmat,
tanggung jawab, dan nilai-nilai agama. Salah satu landasannya adalah QS. Ar-Rum
ayat 21 yang menyebut ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat di antara
pasangan.
2. Apakah keluarga sakinah berarti tidak pernah bertengkar?
Tidak. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan
manusia. Yang penting adalah bagaimana suami dan istri menyelesaikan perbedaan
tersebut dengan komunikasi yang baik, saling menghormati, dan tidak melakukan
tindakan yang merugikan atau menyakiti.
3. Apa kunci utama rumah tangga yang bahagia?
Tidak ada satu faktor yang secara otomatis menjamin
kebahagiaan rumah tangga. Dalam perspektif Islam, iman, tanggung jawab,
komunikasi, kasih sayang, kesabaran, dan akhlak kepada pasangan merupakan
bagian penting dalam membangun kehidupan keluarga.
4. Apakah suami membantu pekerjaan rumah sesuai dengan
ajaran Islam?
Terdapat hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ membantu atau melayani keluarganya
ketika berada di rumah. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari
5363.
5. Bagaimana jika suami dan istri sering berbeda pendapat?
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti rumah tangga gagal.
Pasangan dapat belajar mendengarkan, menyampaikan pendapat tanpa merendahkan,
mencari titik temu, dan mengambil waktu untuk menenangkan diri ketika emosi
meningkat.
6. Apakah memaafkan berarti harus menerima semua perlakuan
pasangan?
Tidak. Memaafkan kesalahan berbeda dengan membiarkan
kekerasan atau kezaliman terus terjadi. Jika terdapat tindakan yang
membahayakan atau merugikan, seseorang tetap perlu mencari perlindungan dan
bantuan yang tepat.
7. Bagaimana cara sederhana memulai membangun keluarga
sakinah?

Posting Komentar untuk "Ingin Rumah Tangga Bahagia? Ini 7 Kunci Keluarga Sakinah Menurut Islam"