Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Tujuan Hidup

Muslim merenungkan tujuan hidup di tengah kesibukan dunia
Dunia bukan tujuan akhir kehidupan

Pernahkah kita merasa hari-hari begitu penuh, tetapi hati justru terasa kosong?

Pagi sibuk bekerja, siang mengejar target, malam masih memikirkan pekerjaan, keuangan, atau rencana masa depan. Kita berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi terkadang lupa bertanya: untuk apa semua yang kita kejar?

Mengejar rezeki, membangun karier, memiliki rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, dan meraih kesuksesan bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Masalahnya muncul ketika urusan dunia mengambil seluruh perhatian sampai kewajiban kepada Allah, ibadah, keluarga, dan persiapan menuju akhirat mulai terabaikan.

Di sinilah kita perlu kembali memahami tujuan hidup dalam Islam.

Tujuan hidup dalam Islam bukan sekadar mendapatkan kekayaan, jabatan, kenyamanan, atau kesuksesan dunia. Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan menjalani kehidupan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai menjadi tujuan akhir. Jadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah, memenuhi kebutuhan, menjaga keluarga, berbuat baik, dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Tujuan Hidup dalam Islam

Allah berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

QS. Adz-Dzariyat [51]: 56

Ayat ini memberikan dasar yang sangat jelas mengenai tujuan penciptaan manusia. Kehidupan seorang Muslim pada dasarnya tidak terlepas dari penghambaan kepada Allah.

Namun, beribadah tidak berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau urusan dunia. Bekerja mencari nafkah dengan cara halal, merawat keluarga, menuntut ilmu, dan membantu orang lain juga dapat menjadi bagian dari kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.

Allah juga mengingatkan:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”

QS. Al-Qashash [28]: 77

Ayat ini menunjukkan keseimbangan, dan islam tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk membenci dunia. Yang perlu diluruskan adalah posisi dunia dalam kehidupan.

Dunia bukan tujuan terakhir, melainkan tempat untuk menjalani amanah dan mengumpulkan bekal menuju kehidupan akhirat.

1.Ketika Mengejar Dunia Mulai Menggeser Tujuan Hidup

Kesibukan dunia sebenarnya bukan masalah selama tidak membuat kita melupakan Allah.

Seseorang boleh bekerja keras. Boleh memiliki cita-cita. Boleh ingin hidup berkecukupan. Bahkan memiliki harta dapat menjadi sarana untuk melakukan banyak kebaikan.

Masalahnya adalah ketika pencapaian dunia mulai menjadi ukuran utama kebahagiaan dan harga diri.

Misalnya, seseorang merasa hidupnya tidak berarti karena penghasilannya lebih kecil daripada orang lain. Atau seseorang terus mengejar jabatan sampai meninggalkan salat, mengabaikan keluarga, dan tidak lagi memiliki waktu untuk mendekat kepada Allah.

Karena hati manusia mudah terikat pada sesuatu yang terus-menerus dikejar.

Ketika dunia menjadi pusat perhatian, standar kehidupan perlahan berubah. Kita mulai merasa harus memiliki lebih banyak agar merasa cukup.

Allah mengingatkan tentang hakikat kehidupan dunia:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan...”

QS. Al-Hadid [57]: 20

Ayat tersebut bukan berarti semua kesenangan dunia haram. Pesannya adalah agar kita tidak tertipu oleh sifat dunia yang sementara.

Seseorang mungkin bekerja dari pagi hingga malam demi meningkatkan penghasilan. Awalnya tujuannya baik, yaitu memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, setelah penghasilan meningkat, keinginan juga semakin bertambah. Rumah ingin lebih besar, kendaraan ingin lebih mahal, gaya hidup ingin lebih tinggi.

Akhirnya, waktu untuk shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berbicara dengan keluarga, dan beristirahat dengan baik semakin berkurang.

Yang awalnya menggunakan dunia, perlahan berubah menjadi dikejar oleh dunia.

Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Jika jawabannya selalu berkaitan dengan uang, status, pengakuan, atau kenyamanan, cobalah menambahkan tujuan akhirat di dalamnya.

Misalnya:

“Saya bekerja mencari rezeki yang baik dan halal, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan mempunyai kemampuan untuk berbagi dan bersedekah.”

Dengan begitu, pekerjaan tidak hanya menjadi aktivitas dunia, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.

2. Memahami Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan Akhir

Islam tidak menyuruh manusia meninggalkan kehidupan dunia.

Justru Allah memberikan berbagai kenikmatan agar manusia dapat memanfaatkannya dengan cara yang benar.

Allah berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”

QS. Al-Qashash [28]: 77

Ayat tersebut mengajarkan keseimbangan: mengejar akhirat tanpa mengabaikan kebutuhan dunia.

Karena kehidupan dunia adalah kesempatan untuk beramal.

Harta dapat digunakan untuk bersedekah. Ilmu bisa dipergunakan untuk membantu orang lain. Pekerjaan dapat menjadi jalan menafkahi keluarga. Kesehatan dapat digunakan untuk beribadah dan melayani sesama.

Jadi, persoalannya bukan berapa banyak dunia yang kita miliki, tetapi untuk apa dunia tersebut kita gunakan.

Seseorang yang memiliki harta banyak tetapi menjadikannya sarana kebaikan tidak sama dengan seseorang yang hidupnya dikendalikan oleh keserakahan.

Memiliki rumah yang nyaman bukan masalah. Membeli kendaraan yang sesuai kebutuhan juga bukan masalah.

Tetapi jika seseorang rela berutang secara tidak perlu demi gengsi, iri melihat kepemilikan orang lain, atau mengabaikan kewajiban karena ingin mempertahankan gaya hidup, di situlah kita perlu berhenti dan mengevaluasi diri.

Cobalah mengubah cara memandang harta dan pekerjaan.

Bukan:

“Saya bekerja supaya bisa memiliki lebih banyak.”

Tetapi:

“Saya bekerja untuk mendapatkan rezeki halal dan menggunakan apa yang Allah berikan untuk kebaikan.”

Perubahan cara pandang sederhana ini dapat membantu kita menempatkan dunia pada posisi yang semestinya.

3. Menjadikan Akhirat sebagai Arah Kehidupan

Memahami tujuan hidup dalam Islam berarti menyadari bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari perjalanan.

Allah berfirman:

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

QS. Al-Mulk [67]: 2

Ayat ini mengingatkan bahwa hidup adalah ujian.

Kita tidak hanya diuji ketika mengalami kesulitan. Kekayaan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, jabatan, bahkan waktu luang juga merupakan bagian dari ujian.

Karena kesuksesan dalam Islam tidak hanya diukur dari apa yang berhasil kita kumpulkan.

Seseorang mungkin memiliki sedikit harta, tetapi kehidupannya penuh ketaatan dan manfaat. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak pencapaian dunia tetapi lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.

Maka, ukuran yang lebih penting adalah apakah kehidupan kita semakin membawa kita kepada ketaatan atau justru semakin jauh dari Allah.

Ketika mendapatkan promosi pekerjaan, kita bisa bersyukur dan meningkatkan tanggung jawab.

Ketika mendapatkan rezeki lebih banyak, kita bisa meningkatkan sedekah.

Ketika mengalami kegagalan, kita belajar bersabar dan mengevaluasi diri.

Ketika melakukan dosa, kita tidak memilih putus asa, tetapi segera bertaubat.

Dengan cara ini, berbagai keadaan hidup dapat menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah.

Sebelum mengambil keputusan besar, jangan hanya bertanya:

“Apakah ini menguntungkan saya?”

Tambahkan pertanyaan:

“Apakah ini halal?”

“Apakah ini membuat saya tambah dekat kepada Allah atau justru sebaliknya?”

“Apakah pilihan ini terbaik bagi keluarga dan kehidupan akhirat saya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi panduan saat kita berada di tengah kesibukan dunia.

Jangan Salah Memahami: Islam Bukan Mengajarkan Kita Membenci Dunia

Ada anggapan bahwa orang yang ingin dekat dengan Allah harus meninggalkan kesuksesan dunia.

Pemahaman seperti ini perlu diluruskan.

Islam tidak mengajarkan kemalasan atau mengabaikan tanggung jawab. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berusaha, mencari rezeki yang halal, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memberikan manfaat.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi.

Kita boleh memiliki cita-cita tinggi, selama cita-cita tersebut tidak membuat kita menghalalkan segala cara.

Kita boleh ingin kaya, selama kekayaan tidak membuat kita sombong dan lupa bersyukur.

Kita boleh mengejar karier, selama pekerjaan tidak membuat kita meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Kita boleh menikmati kehidupan, selama kenikmatan tersebut tidak membuat kita lupa bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.

Bagaimana Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari?

Memahami tujuan hidup tidak cukup hanya dengan mengetahui dalil. Kita perlu menerapkannya dalam rutinitas.

1. Evaluasi kembali apa yang sedang dikejar

Luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri tentang tujuan pekerjaan, bisnis, pendidikan, dan berbagai aktivitas yang sedang dijalani.

Pastikan semuanya tidak hanya berorientasi pada pencapaian dunia.

2. Jangan menunda ibadah karena kesibukan

Pekerjaan penting, tetapi kewajiban kepada Allah juga penting.

Atur aktivitas agar salat tidak terus-menerus menjadi sesuatu yang dikerjakan ketika semua urusan dunia telah selesai.

3. Sisihkan waktu untuk akhirat setiap hari

Tidak harus selalu dalam waktu yang panjang.

Membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, mempelajari ilmu agama, bersedekah, atau melakukan kebaikan sederhana dapat menjadi pengingat agar hati tidak sepenuhnya tenggelam dalam urusan dunia.

4. Jadikan rezeki sebagai sarana kebaikan

Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan hanya menaikkan standar gaya hidup.

Pertimbangkan pula untuk membantu orang tua, memenuhi kebutuhan keluarga, bersedekah, atau mendukung kegiatan yang bermanfaat.

5. Belajar merasa cukup

Memiliki keinginan untuk berkembang bukan sesuatu yang salah. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita terus merasa kekurangan.

Syukur membantu kita menikmati apa yang sudah Allah berikan tanpa berhenti berusaha memperbaiki diri.

Kesimpulan

Kesibukan mencari nafkah, membangun karier, memenuhi kebutuhan keluarga, dan meraih cita-cita bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai semua itu membuat kita lupa untuk apa Allah memberikan kehidupan.

Tujuan hidup dalam Islam adalah beribadah kepada Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya, dengan menjadikan dunia sebagai sarana menuju kebaikan dan akhirat sebagai tujuan akhir.

Karena itu, tidak masalah jika kita bekerja keras mengejar kehidupan yang lebih baik. Tetapi jangan sampai dalam perjalanan tersebut kita kehilangan arah.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita dapatkan, tetapi tentang apa yang kita lakukan dengan apa yang Allah titipkan kepada kita.

Dunia bisa dalam genggaman tangan kita, akan tetapi jangan sampai menguasai hati kita.

FAQ

1. Apa tujuan hidup manusia menurut Islam?

Allah menjelaskan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 56. Ibadah mencakup penghambaan kepada Allah serta berbagai aktivitas baik yang dilakukan sesuai tuntunan-Nya.

2. Apakah mengejar kekayaan dunia diperbolehkan dalam Islam?

Boleh, selama dilakukan melalui cara yang halal dan tidak membuat seseorang melupakan kewajibannya kepada Allah. Harta sebaiknya dipandang sebagai amanah dan sarana untuk melakukan kebaikan.

3. Apakah bekerja keras berarti terlalu mengejar dunia?

Tidak selalu. Bekerja keras untuk mencari rezeki halal, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memberikan manfaat merupakan hal yang baik. Yang perlu dihindari adalah ketika pekerjaan membuat seseorang meninggalkan kewajiban agama atau menjadikan harta sebagai tujuan hidup.

4. Bagaimana agar tidak terlalu cinta dunia?

Perkuat hubungan dengan Allah, perbanyak mengingat akhirat, menjaga ibadah, belajar bersyukur, menggunakan harta untuk kebaikan, dan secara berkala mengevaluasi kembali tujuan hidup.

5. Apakah orang yang sukses secara duniawi bisa tetap dekat dengan Allah?

Tentu bisa. Kekayaan, jabatan, dan kesuksesan tidak otomatis menjauhkan seseorang dari Allah. Yang menentukan adalah bagaimana semua nikmat tersebut digunakan dan apakah hati tetap tunduk kepada Allah.

Posting Komentar untuk "Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Tujuan Hidup"