Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Tujuan Hidup
![]() |
| Dunia bukan tujuan akhir kehidupan |
Pernahkah kita merasa hari-hari begitu penuh, tetapi hati justru terasa kosong?
Pagi sibuk bekerja, siang mengejar target, malam masih
memikirkan pekerjaan, keuangan, atau rencana masa depan. Kita berusaha
mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi terkadang lupa bertanya: untuk
apa semua yang kita kejar?
Mengejar rezeki, membangun karier, memiliki rumah, memenuhi
kebutuhan keluarga, dan meraih kesuksesan bukanlah sesuatu yang dilarang dalam
Islam. Masalahnya muncul ketika urusan dunia mengambil seluruh perhatian sampai
kewajiban kepada Allah, ibadah, keluarga, dan persiapan menuju akhirat mulai
terabaikan.
Di sinilah kita perlu kembali memahami tujuan hidup dalam
Islam.
Tujuan hidup dalam Islam bukan sekadar mendapatkan kekayaan,
jabatan, kenyamanan, atau kesuksesan dunia. Allah menciptakan manusia untuk
beribadah kepada-Nya dan menjalani kehidupan sebagai bentuk ketaatan kepada
Allah.
Dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai menjadi tujuan
akhir. Jadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah, memenuhi kebutuhan,
menjaga keluarga, berbuat baik, dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Tujuan Hidup dalam Islam
Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku.”
QS. Adz-Dzariyat [51]: 56
Ayat ini memberikan dasar yang sangat jelas mengenai tujuan
penciptaan manusia. Kehidupan seorang Muslim pada dasarnya tidak terlepas dari
penghambaan kepada Allah.
Namun, beribadah tidak berarti seseorang harus meninggalkan
pekerjaan, keluarga, atau urusan dunia. Bekerja mencari nafkah dengan cara
halal, merawat keluarga, menuntut ilmu, dan membantu orang lain juga dapat
menjadi bagian dari kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar dan
sesuai syariat.
Allah juga mengingatkan:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”
QS. Al-Qashash [28]: 77
Ayat ini menunjukkan keseimbangan, dan islam tidak pernah
mengajarkan kepada kita untuk membenci dunia. Yang perlu diluruskan adalah
posisi dunia dalam kehidupan.
Dunia bukan tujuan terakhir, melainkan tempat untuk
menjalani amanah dan mengumpulkan bekal menuju kehidupan akhirat.
1.Ketika Mengejar Dunia Mulai Menggeser Tujuan Hidup
Kesibukan dunia sebenarnya bukan masalah selama tidak
membuat kita melupakan Allah.
Seseorang boleh bekerja keras. Boleh memiliki cita-cita.
Boleh ingin hidup berkecukupan. Bahkan memiliki harta dapat menjadi sarana
untuk melakukan banyak kebaikan.
Masalahnya adalah ketika pencapaian dunia mulai menjadi
ukuran utama kebahagiaan dan harga diri.
Misalnya, seseorang merasa hidupnya tidak berarti karena
penghasilannya lebih kecil daripada orang lain. Atau seseorang terus mengejar
jabatan sampai meninggalkan salat, mengabaikan keluarga, dan tidak lagi
memiliki waktu untuk mendekat kepada Allah.
Karena hati manusia mudah terikat pada sesuatu yang
terus-menerus dikejar.
Ketika dunia menjadi pusat perhatian, standar kehidupan
perlahan berubah. Kita mulai merasa harus memiliki lebih banyak agar merasa
cukup.
Allah mengingatkan tentang hakikat kehidupan dunia:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah
permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara
kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan...”
QS. Al-Hadid [57]: 20
Ayat tersebut bukan berarti semua kesenangan dunia haram.
Pesannya adalah agar kita tidak tertipu oleh sifat dunia yang sementara.
Seseorang mungkin bekerja dari pagi hingga malam demi
meningkatkan penghasilan. Awalnya tujuannya baik, yaitu memenuhi kebutuhan
keluarga.
Namun, setelah penghasilan meningkat, keinginan juga semakin
bertambah. Rumah ingin lebih besar, kendaraan ingin lebih mahal, gaya hidup
ingin lebih tinggi.
Akhirnya, waktu untuk shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an,
berbicara dengan keluarga, dan beristirahat dengan baik semakin berkurang.
Yang awalnya menggunakan dunia, perlahan berubah menjadi
dikejar oleh dunia.
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”
Jika jawabannya selalu berkaitan dengan uang, status,
pengakuan, atau kenyamanan, cobalah menambahkan tujuan akhirat di dalamnya.
Misalnya:
“Saya bekerja mencari rezeki yang baik dan halal, untuk
memenuhi kebutuhan keluarga, dan mempunyai kemampuan untuk berbagi dan
bersedekah.”
Dengan begitu, pekerjaan tidak hanya menjadi aktivitas
dunia, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.
2. Memahami Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan Akhir
Islam tidak menyuruh manusia meninggalkan kehidupan dunia.
Justru Allah memberikan berbagai kenikmatan agar manusia
dapat memanfaatkannya dengan cara yang benar.
Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”
QS. Al-Qashash [28]: 77
Ayat tersebut mengajarkan keseimbangan: mengejar akhirat
tanpa mengabaikan kebutuhan dunia.
Karena kehidupan dunia adalah kesempatan untuk beramal.
Harta dapat digunakan untuk bersedekah. Ilmu bisa
dipergunakan untuk membantu orang lain. Pekerjaan dapat menjadi jalan menafkahi
keluarga. Kesehatan dapat digunakan untuk beribadah dan melayani sesama.
Jadi, persoalannya bukan berapa banyak dunia yang kita
miliki, tetapi untuk apa dunia tersebut kita gunakan.
Seseorang yang memiliki harta banyak tetapi menjadikannya
sarana kebaikan tidak sama dengan seseorang yang hidupnya dikendalikan oleh
keserakahan.
Memiliki rumah yang nyaman bukan masalah. Membeli kendaraan
yang sesuai kebutuhan juga bukan masalah.
Tetapi jika seseorang rela berutang secara tidak perlu demi
gengsi, iri melihat kepemilikan orang lain, atau mengabaikan kewajiban karena
ingin mempertahankan gaya hidup, di situlah kita perlu berhenti dan
mengevaluasi diri.
Cobalah mengubah cara memandang harta dan pekerjaan.
Bukan:
“Saya bekerja supaya bisa memiliki lebih banyak.”
Tetapi:
“Saya bekerja untuk mendapatkan rezeki halal dan menggunakan
apa yang Allah berikan untuk kebaikan.”
Perubahan cara pandang sederhana ini dapat membantu kita
menempatkan dunia pada posisi yang semestinya.
3. Menjadikan Akhirat sebagai Arah Kehidupan
Memahami tujuan hidup dalam Islam berarti menyadari bahwa
kehidupan dunia bukanlah akhir dari perjalanan.
Allah berfirman:
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa
di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
QS. Al-Mulk [67]: 2
Ayat ini mengingatkan bahwa hidup adalah ujian.
Kita tidak hanya diuji ketika mengalami kesulitan. Kekayaan,
kesehatan, pekerjaan, keluarga, jabatan, bahkan waktu luang juga merupakan
bagian dari ujian.
Karena kesuksesan dalam Islam tidak hanya diukur dari apa
yang berhasil kita kumpulkan.
Seseorang mungkin memiliki sedikit harta, tetapi
kehidupannya penuh ketaatan dan manfaat. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki
banyak pencapaian dunia tetapi lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.
Maka, ukuran yang lebih penting adalah apakah kehidupan kita
semakin membawa kita kepada ketaatan atau justru semakin jauh dari Allah.
Ketika mendapatkan promosi pekerjaan, kita bisa bersyukur
dan meningkatkan tanggung jawab.
Ketika mendapatkan rezeki lebih banyak, kita bisa
meningkatkan sedekah.
Ketika mengalami kegagalan, kita belajar bersabar dan
mengevaluasi diri.
Ketika melakukan dosa, kita tidak memilih putus asa, tetapi
segera bertaubat.
Dengan cara ini, berbagai keadaan hidup dapat menjadi jalan
untuk mendekat kepada Allah.
Sebelum mengambil keputusan besar, jangan hanya bertanya:
“Apakah ini menguntungkan saya?”
Tambahkan pertanyaan:
“Apakah ini halal?”
“Apakah ini membuat saya tambah dekat kepada Allah atau
justru sebaliknya?”
“Apakah pilihan ini terbaik bagi keluarga dan kehidupan
akhirat saya?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi panduan saat
kita berada di tengah kesibukan dunia.
Jangan Salah Memahami: Islam Bukan Mengajarkan Kita Membenci
Dunia
Ada anggapan bahwa orang yang ingin dekat dengan Allah harus
meninggalkan kesuksesan dunia.
Pemahaman seperti ini perlu diluruskan.
Islam tidak mengajarkan kemalasan atau mengabaikan tanggung
jawab. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berusaha, mencari rezeki yang
halal, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memberikan manfaat.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan dunia sebagai tujuan
tertinggi.
Kita boleh memiliki cita-cita tinggi, selama cita-cita
tersebut tidak membuat kita menghalalkan segala cara.
Kita boleh ingin kaya, selama kekayaan tidak membuat kita
sombong dan lupa bersyukur.
Kita boleh mengejar karier, selama pekerjaan tidak membuat
kita meninggalkan kewajiban kepada Allah.
Kita boleh menikmati kehidupan, selama kenikmatan tersebut
tidak membuat kita lupa bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Bagaimana Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari?
Memahami tujuan hidup tidak cukup hanya dengan mengetahui
dalil. Kita perlu menerapkannya dalam rutinitas.
1. Evaluasi kembali apa yang sedang dikejar
Luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri tentang
tujuan pekerjaan, bisnis, pendidikan, dan berbagai aktivitas yang sedang
dijalani.
Pastikan semuanya tidak hanya berorientasi pada pencapaian
dunia.
2. Jangan menunda ibadah karena kesibukan
Pekerjaan penting, tetapi kewajiban kepada Allah juga
penting.
Atur aktivitas agar salat tidak terus-menerus menjadi
sesuatu yang dikerjakan ketika semua urusan dunia telah selesai.
3. Sisihkan waktu untuk akhirat setiap hari
Tidak harus selalu dalam waktu yang panjang.
Membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, mempelajari ilmu agama,
bersedekah, atau melakukan kebaikan sederhana dapat menjadi pengingat agar hati
tidak sepenuhnya tenggelam dalam urusan dunia.
4. Jadikan rezeki sebagai sarana kebaikan
Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan hanya menaikkan
standar gaya hidup.
Pertimbangkan pula untuk membantu orang tua, memenuhi
kebutuhan keluarga, bersedekah, atau mendukung kegiatan yang bermanfaat.
5. Belajar merasa cukup
Memiliki keinginan untuk berkembang bukan sesuatu yang
salah. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita terus merasa
kekurangan.
Syukur membantu kita menikmati apa yang sudah Allah berikan
tanpa berhenti berusaha memperbaiki diri.
Kesimpulan
Kesibukan mencari nafkah, membangun karier, memenuhi
kebutuhan keluarga, dan meraih cita-cita bukan sesuatu yang bertentangan dengan
Islam. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai semua itu membuat kita lupa untuk
apa Allah memberikan kehidupan.
Tujuan hidup dalam Islam adalah beribadah kepada Allah dan
menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya, dengan menjadikan dunia sebagai
sarana menuju kebaikan dan akhirat sebagai tujuan akhir.
Karena itu, tidak masalah jika kita bekerja keras mengejar
kehidupan yang lebih baik. Tetapi jangan sampai dalam perjalanan tersebut kita
kehilangan arah.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak yang
berhasil kita dapatkan, tetapi tentang apa yang kita lakukan dengan apa yang
Allah titipkan kepada kita.
Dunia bisa dalam genggaman tangan kita, akan tetapi jangan
sampai menguasai hati kita.
FAQ
1. Apa tujuan hidup manusia menurut Islam?
Allah menjelaskan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk
beribadah kepada-Nya. Hal ini disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.
Ibadah mencakup penghambaan kepada Allah serta berbagai aktivitas baik yang
dilakukan sesuai tuntunan-Nya.
2. Apakah mengejar kekayaan dunia diperbolehkan dalam Islam?
Boleh, selama dilakukan melalui cara yang halal dan tidak
membuat seseorang melupakan kewajibannya kepada Allah. Harta sebaiknya
dipandang sebagai amanah dan sarana untuk melakukan kebaikan.
3. Apakah bekerja keras berarti terlalu mengejar dunia?
Tidak selalu. Bekerja keras untuk mencari rezeki halal,
memenuhi kebutuhan keluarga, dan memberikan manfaat merupakan hal yang baik.
Yang perlu dihindari adalah ketika pekerjaan membuat seseorang meninggalkan
kewajiban agama atau menjadikan harta sebagai tujuan hidup.
4. Bagaimana agar tidak terlalu cinta dunia?
Perkuat hubungan dengan Allah, perbanyak mengingat akhirat,
menjaga ibadah, belajar bersyukur, menggunakan harta untuk kebaikan, dan secara
berkala mengevaluasi kembali tujuan hidup.
5. Apakah orang yang sukses secara duniawi bisa tetap dekat
dengan Allah?

Posting Komentar untuk "Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Tujuan Hidup"