Pelajaran dari Amalan Rasulullah yang Bisa Dibiasakan dalam Kehidupan Sehari-hari
![]() |
| Meneladani Rasulullah melaui amalan sederhana |
Kesibukan sering membuat kita merasa bahwa beribadah kepada Allah harus selalu dilakukan dengan amalan yang besar. Padahal, kehidupan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah juga tercermin dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Menyebut nama Allah, menjaga salat, memperlakukan keluarga
dengan baik, membantu orang lain, menjaga lisan, hingga memperbanyak istighfar
adalah bagian dari teladan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lalu, apa saja amalan Rasulullah sehari-hari yang dapat kita
pelajari dan biasakan? Yang terpenting bukan sekadar mengetahui amalannya,
tetapi memahami nilai di baliknya agar dapat diterapkan sesuai kemampuan.
Amalan Rasulullah sehari-hari mengajarkan bahwa ibadah tidak
hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga dengan akhlak, hubungan sosial,
keluarga, dan cara menjalani kehidupan. Beberapa pelajaran penting yang dapat
dibiasakan adalah menjaga salat, memperbanyak zikir dan istighfar, berbuat baik
kepada keluarga serta sesama, dan membiasakan amal yang dilakukan secara
konsisten.
Rasulullah ﷺ
Adalah Teladan
Allah berfirman:
“Sungguh,
telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...”
QS. Al-Ahzab [33]: 21
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa kehidupan Rasulullah ﷺ dapat menjadi teladan bagi
orang beriman.
Namun, meneladani Rasulullah bukan berarti hanya mengikuti
bentuk lahiriah suatu amalan. Kita juga perlu memahami nilai dan tujuan di
balik amalan tersebut.
Misalnya, salat bukan sekadar gerakan yang dilakukan beberapa kali dalam sehari. Salat mengajarkan kedisiplinan dan hubungan seorang hamba dengan Allah. Demikian pula zikir bukan hanya pengulangan ucapan, tetapi sarana untuk mengingat Allah di tengah kehidupan yang sering membuat hati lalai.
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
“Amalan
yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu meskipun sedikit.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadis ini memberikan pelajaran penting: konsistensi lebih
baik daripada semangat besar yang hanya berlangsung sebentar.
1. Menjaga Shalat sebagai Prioritas di Tengah Kesibukan
Shalat merupakan ibadah wajib yang menjadi bagian utama
kehidupan seorang Muslim. Rasulullah ﷺ
sangat menjaga shalat dan mengajarkan umatnya untuk memperhatikannya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya
shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.”
QS. An-Nisa [4]: 103
Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, maupun berbagai
persoalan kehidupan mudah membuat seseorang menunda ibadah.
Padahal, salah satu pelajaran dari kehidupan Rasulullah ﷺ adalah menempatkan hubungan
dengan Allah sebagai bagian penting dari kehidupan, bukan sesuatu yang hanya
dilakukan ketika mempunyai waktu luang.
Shalat juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari
kesibukan dunia dan kembali mengingat Allah.
Ketika pekerjaan sedang banyak, seseorang mungkin merasa
tidak memiliki waktu untuk beribadah. Padahal, waktu shalat tetap berjalan.
Daripada menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk melupakan
shalat, kita dapat menjadikan waktu shalat sebagai jeda yang membantu menata
kembali pikiran dan hati. Beberapa caranya adalah :
- Usahakan shalat di awal waktu sesuai kemampuan.
- Siapkan pengingat waktu shalat.
- Hindari menunda shalat tanpa alasan yang dibenarkan.
- Jadikan shalat sebagai prioritas, bukan aktivitas yang dikerjakan setelah semua pekerjaan selesai.
2. Membiasakan Zikir dan Istighfar dalam Aktivitas Harian
Zikir berarti mengingat Allah. Salah satu bentuknya adalah
membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istighfar.
Allah berfirman:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.”
QS. Al-Ahzab [33]: 41
Rasulullah ﷺ
juga banyak beristighfar. Dalam hadis sahih, beliau bersabda bahwa beliau
beristighfar kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.
Dalam riwayat lain dari Sahih Muslim, disebutkan bahwa
Rasulullah ﷺ beristighfar
kepada Allah seratus kali dalam sehari. HR. Muslim no. 2702.
Manusia mudah lalai. Ketika pikiran dipenuhi pekerjaan,
masalah ekonomi, keluarga, atau berbagai urusan dunia, hati dapat semakin jauh
dari mengingat Allah.
Zikir mengajarkan kita untuk menghadirkan Allah dalam
kehidupan sehari-hari.
Istighfar juga mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari
kesalahan dan selalu membutuhkan ampunan Allah.
Saat sedang dalam perjalanan, menunggu seseorang, selesai
mengerjakan pekerjaan rumah, atau memiliki waktu luang beberapa menit, kita
dapat mengisinya dengan zikir.
Tidak semua zikir membutuhkan waktu khusus yang panjang.
Mulailah dari kebiasaan sederhana:
- membaca istighfar setelah salat,
- memperbanyak zikir ketika memiliki waktu luang,
- membaca zikir pagi dan petang yang bersumber dari tuntunan Nabi ﷺ,
- mengucapkan tahmid ketika mendapatkan nikmat,
- membiasakan mengingat Allah ketika hati mulai gelisah.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan menganggap semua
jumlah atau tata cara zikir tertentu sebagai sunnah Nabi jika tidak memiliki
dasar yang jelas.
3. Memperlakukan Keluarga dengan Akhlak yang Baik
Meneladani Rasulullah ﷺ
tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi. Cara beliau memperlakukan keluarga
juga menjadi pelajaran penting.
Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya mengenai apa yang
dilakukan Rasulullah ﷺ di
rumah. Ia menjelaskan bahwa beliau membantu keluarganya, kemudian ketika waktu
salat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan salat.
HR. Bukhari no. 676.
Terkadang seseorang terlihat baik kepada orang lain, tetapi
mudah marah kepada orang yang paling dekat dengannya.
Padahal, keluarga adalah tempat seseorang paling sering
berinteraksi. Karena itu, akhlak kepada keluarga merupakan bagian penting dalam
kehidupan seorang Muslim.
Meneladani Rasulullah ﷺ
berarti belajar bahwa kesalehan tidak hanya terlihat di masjid atau di hadapan
banyak orang, tetapi juga dalam cara kita berbicara dan bersikap kepada
keluarga.
Ketika pulang kerja dalam keadaan lelah, kita mungkin mudah
tersinggung ketika pasangan atau anak meminta bantuan.
Dalam kondisi seperti ini, kita dapat belajar menahan emosi
dan tetap berbicara dengan baik, dengan cara :
- Membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.
- Berbicara dengan lembut kepada pasangan dan anak.
- Tidak menjadikan kelelahan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
- Memberikan waktu untuk mendengarkan anggota keluarga.
- Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Amalan sederhana seperti membantu keluarga dapat menjadi
bagian dari akhlak yang bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang
baik.
4. Berbuat Baik kepada Orang Lain
Rasulullah ﷺ
mengajarkan banyak bentuk kebaikan dalam hubungan sosial. Kebaikan tidak selalu
berupa pemberian materi.
Senyum, ucapan yang baik, membantu seseorang, menjenguk
orang sakit, dan berbagai bentuk pertolongan juga dapat menjadi amal.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Setiap
kebaikan adalah sedekah.”
HR. Bukhari dan Muslim
Tetapi, yang perlu dipahami adalah bahwa semua orang
mempunyai kemampuan ekonomi yang berbeda.
Jika sedekah hanya dipahami sebagai memberikan uang,
seseorang mungkin merasa tidak dapat berbuat banyak ketika kondisi ekonominya
terbatas.
Hadis tersebut memberikan pemahaman bahwa pintu kebaikan
jauh lebih luas.
Di tempat kerja, misalnya, kita dapat membantu rekan yang kesulitan memahami pekerjaan. Di lingkungan rumah, kita dapat membantu tetangga dalam perkara yang mampu kita lakukan.
Bahkan menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain juga
merupakan bentuk kebaikan.
Cobalah membiasakan satu kebaikan setiap hari tanpa menunggu
kesempatan besar.
Bantu orang ketika mampu. Berikan ucapan yang baik. Jangan
mempermalukan orang lain. Dan jika tidak dapat membantu, setidaknya jangan
menambah kesulitannya.
5. Membiasakan Amalan Sedikit tetapi Konsisten
Salah satu pelajaran penting dari sunnah Rasulullah ﷺ adalah pentingnya kontinuitas
dalam beramal.
Hadis tentang amalan yang paling dicintai Allah mengingatkan
bahwa amalan yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit, memiliki kedudukan
yang penting.
Semangat beribadah terkadang naik turun.
Ada masa ketika seseorang ingin melakukan banyak amalan
sekaligus. Namun karena terlalu berat, beberapa hari kemudian semuanya
ditinggalkan.
Karena itu, lebih realistis membangun kebiasaan secara
bertahap.
Daripada langsung menetapkan target membaca Al-Qur'an dalam
jumlah besar setiap hari tetapi sulit dipertahankan, seseorang dapat memulai
dengan beberapa ayat secara konsisten.
Setelah kebiasaan terbentuk, jumlahnya dapat ditingkatkan
secara bertahap.
Pilih beberapa amalan yang realistis, misalnya:
- membaca Al-Qur'an setiap hari,
- memperbanyak istighfar,
- menjaga shalat wajib,
- membaca zikir yang sesuai tuntunan,
- bersedekah sesuai kemampuan,
- membantu keluarga,
- menjaga lisan dari perkataan yang buruk.
Prinsipnya sederhana: jangan hanya bertanya, “Amalan apa
yang paling banyak?” tetapi juga tanyakan, “Amalan apa yang mampu saya jaga
dengan istiqamah?”
Bagaimana Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari?
Tidak perlu menubah kegiatan rutin sehari-hari secara
keseluruhani. Cobalah menerapkannya secara bertahap.
1. Tentukan satu amalan utama
Misalnya menjaga salat tepat waktu. Jadikan satu kebiasaan
tersebut sebagai fokus awal.
2. Tambahkan amalan kecil
Setelah mulai terbiasa, tambahkan zikir atau membaca
Al-Qur'an dalam waktu tertentu.
3. Perbaiki akhlak di rumah
Jangan hanya mengejar ibadah pribadi. Latih kesabaran,
kelembutan, dan kepedulian kepada keluarga.
4. Jadikan kebaikan sebagai kebiasaan
Cari kesempatan untuk membantu orang lain tanpa harus
menunggu mempunyai banyak harta.
5. Evaluasi diri secara berkala
Jika suatu amalan terhenti, jangan langsung merasa semuanya
gagal. Mulailah kembali dan cari cara agar kebiasaan tersebut lebih mudah
dipertahankan.
Kesimpulan
Pelajaran dari amalan Rasulullah sehari-hari menunjukkan
bahwa kehidupan seorang Muslim tidak harus dipenuhi amalan yang berat untuk
menjadi lebih dekat kepada Allah.
Menjaga salat, memperbanyak zikir dan istighfar, berbuat
baik kepada keluarga, membantu sesama, serta membangun kebiasaan amal yang
konsisten adalah beberapa pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Yang penting bukan sekadar banyaknya amalan, tetapi
kesungguhan untuk menjalankannya sesuai tuntunan dan menjaganya dengan
istiqamah.
Rasulullah ﷺ
adalah teladan bagi kita. Karena itu, jangan menunggu sampai kehidupan
benar-benar sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Mulailah dari satu amalan
yang sederhana, lakukan dengan ikhlas, lalu berusaha menjaganya hari demi hari.
FAQ
1. Apa saja amalan Rasulullah sehari-hari yang bisa diteladani?
Di antaranya menjaga salat, memperbanyak zikir dan
istighfar, berbuat baik kepada keluarga, membantu sesama, serta menjaga amal
agar dilakukan secara konsisten.
2. Apakah amalan yang sedikit tetapi rutin lebih baik?
Rasulullah ﷺ
bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan
secara kontinu meskipun sedikit. HR. Bukhari dan Muslim.
3. Apakah membantu keluarga termasuk meneladani Rasulullah?
Ya. Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ membantu keluarganya di rumah.
HR. Bukhari no. 676.
4. Apakah zikir harus dilakukan dalam waktu khusus?
Tidak semua zikir harus dilakukan dalam waktu khusus. Ada
zikir yang memiliki waktu atau keadaan tertentu sesuai tuntunan, dan ada pula
zikir yang dapat dilakukan secara umum. Karena itu, sebaiknya mengikuti zikir
yang memiliki dasar dari Al-Qur'an dan hadis.
5. Bagaimana jika sulit istiqamah dalam beramal?

Posting Komentar untuk "Pelajaran dari Amalan Rasulullah yang Bisa Dibiasakan dalam Kehidupan Sehari-hari"